game theory dan perubahan iklim
mengapa setiap negara takut menjadi yang pertama berkorban
Pernahkah kita terjebak dalam sebuah kelompok tugas di kampus atau di kantor, di mana semua orang tahu tenggat waktu sudah sangat dekat, tapi tidak ada satu pun yang mulai bekerja? Kita saling lirik. Menunggu siapa yang akan jadi "pahlawan" pertama yang mengorbankan waktu istirahatnya. Ujung-ujungnya, semua begadang panik di malam terakhir, dan hasilnya hancur lebur. Konyol, bukan? Tapi, bagaimana kalau saya bilang bahwa dinamika "tugas kelompok" yang menyebalkan ini adalah alasan utama mengapa bumi kita sedang pelan-pelan terpanggang?
Bayangkan bumi ini adalah proyek kelompok paling masif sepanjang sejarah umat manusia. Setiap tahun, para pemimpin dunia berkumpul, berjabat tangan di depan kamera, dan berjanji akan mengurangi emisi karbon. Mereka tahu persis es di kutub sedang mencair. Mereka paham cuaca ekstrem makin sering terjadi dan mengancam jutaan nyawa. Namun, begitu pulang ke negara masing-masing, pabrik-pabrik kembali mengepulkan asap pekat. Hutan-hutan kembali ditebang atas nama pertumbuhan ekonomi. Grafik suhu bumi terus naik tanpa ampun. Teman-teman mungkin bertanya-tanya, apakah para pemimpin ini pada dasarnya memang jahat? Apakah mereka tidak peduli pada masa depan anak cucu mereka sendiri? Realitasnya ternyata jauh lebih rumit. Jujur saja, ini lebih tragis dari sekadar plot film tentang penguasa yang serakah.
Untuk memahami kekacauan ini, kita harus mundur sejenak ke era Perang Dingin. Saat itu, dunia berada di ambang kiamat nuklir. Para ilmuwan dan ahli strategi memutar otak untuk memahami bagaimana manusia mengambil keputusan saat berada dalam kondisi sangat terancam. Dari paranoia massal itulah lahir sebuah cabang matematika dan psikologi yang kelak mengubah total cara kita melihat interaksi antarmanusia. Namanya Game Theory atau Teori Permainan. Dalam teori ini, ada satu paradoks yang sangat brilian sekaligus mengerikan. Sebuah teka-teki logika yang menjelaskan mengapa dua orang yang sangat pintar dan rasional, justru sering kali mengambil keputusan yang paling bodoh bagi mereka berdua. Ada sebuah jebakan tak kasat mata yang membuat semua negara di dunia saat ini lumpuh. Mereka ketakutan setengah mati untuk menjadi yang pertama menyelamatkan bumi. Kira-kira, apa jebakan psikologis itu?
Jebakan itu bernama Prisoner’s Dilemma atau Dilema Tahanan. Bayangkan dua perampok tertangkap dan diinterogasi di ruang terpisah. Jika keduanya bungkam, mereka hanya dihukum ringan. Jika satu orang bersaksi dan yang lain bungkam, si saksi bebas dan yang bungkam dihukum sangat berat. Tapi jika keduanya saling mengkhianati, keduanya dihukum sedang. Karena mereka tidak bisa saling berkomunikasi dan selalu ada rasa curiga, pilihan paling "masuk akal" bagi masing-masing individu adalah saling mengkhianati. Walaupun jelas-jelas itu bukan hasil terbaik untuk mereka berdua.
Sekarang, mari kita tarik konsep ini ke masalah perubahan iklim. Bagi sebuah negara, transisi ke energi hijau itu sangat mahal. Butuh pengorbanan ekonomi besar untuk menutup tambang batu bara dan membangun infrastruktur panel surya. Inilah yang memicu apa yang disebut Tragedy of the Commons. Jika Negara A berkorban mengerem laju ekonominya demi udara bersih, tapi Negara B tetap santai membakar bahan bakar fosil, apa yang terjadi? Negara B akan tumbuh menjadi raksasa ekonomi, sementara Negara A tertinggal. Hebatnya lagi, Negara B tetap bisa menikmati udara bersih hasil kerja keras Negara A tanpa keluar uang sepeser pun! Inilah yang dalam sains disebut free-rider problem atau masalah penumpang gelap. Karena setiap pemimpin negara secara diam-diam takut menjadi si Negara A yang "naif" dan dirugikan, maka semua negara memilih opsi yang paling aman secara egois: tetap merusak alam. Mereka semua memilih untuk saling mengkhianati, meskipun itu berarti kapal yang mereka tumpangi bersama akhirnya perlahan-lahan tenggelam.
Mendengar kenyataan pahit ini mungkin membuat kita merasa sedih dan tidak berdaya. Seolah-olah sifat egois dan kompetitif sudah tertanam permanen dalam DNA kita. Namun, mari kita ambil napas sejenak. Sejarah manusia bukan hanya berisi daftar pengkhianatan, tapi juga rekam jejak kolaborasi yang luar biasa. Game Theory sendiri mengajarkan bahwa Dilema Tahanan hanya akan berakhir buruk jika tidak ada rasa saling percaya dan tidak ada aturan yang mengikat. Artinya, solusi dari krisis iklim bukanlah sekadar meminta orang untuk "tolong lebih peduli pada alam". Kita harus mengubah aturan permainannya.
Itulah mengapa perjanjian internasional yang memiliki sanksi tegas, atau penerapan sistem seperti pajak karbon global (carbon tax), menjadi sangat krusial. Kita butuh sebuah sistem di mana menjadi free-rider itu jauh lebih menyakitkan secara ekonomi daripada bekerja sama. Teman-teman, bumi ini mungkin sedang berada di tengah tugas kelompok terburuknya. Tapi, selama kita paham bahwa akar masalahnya bukanlah semata-mata niat buruk, melainkan sistem insentif yang salah desain, kita masih punya banyak harapan. Kita hanya perlu berhenti saling menunggu siapa yang akan jadi martir pertama. Kita harus mulai menuntut strategi bersama agar tidak ada lagi celah bagi siapa pun untuk berkhianat pada rumah kita satu-satunya ini.